Ratna Vitadiani

mimpi itu seperti niatm walau tak terwujud tetap berpahala
Recent Tweets @
Tanyakan padaku
Saya ga berusaha menciptakan image “luar biasa” dimata orang lain, saya pun kaget denger penilaian orang lain terhadap saya. Tapi ini hanya yang bisa saya lakukan, itu semua memanglah bonus saja

Tuhan, saya tak tau lagi nikmat mana yang harus aku dustakan. Sungguh, satu persatu impian yg aku tuliskan di proposal hidup yang aku ajukan satu persatu di acc oleh NYA. Tuhan, masih ada 1000001 mimpiku yg lain, semoga Engkau tak kapok meng acc proposal hidup yang aku ajukan :)))

Pemimpin itu menyentuh hatinya dahulu baru menggerakkan tangannya.
Bayu Panji (via mandalawangi)

(via sebelasbintang)

  • P : kesini sendirian mba?
  • V : engga mba dianter
  • P : oh dianter suami ya mba?
  • V : ..... engga, masih kuliah baru semester 4
  • Huft *ambi kaca*

kuntawiaji:

Hari ini Ibu S, salah seorang pasien, membawakan telur penyu rebus untuk saya dan teman-teman di poli bedah. Sebelumnya saya belum pernah makan telur penyu. Saya memang tidak terlalu tertarik untuk mencobanya. Apalagi ditambah keberadaan penyu yang terancam sehingga sepengetahuan saya memakan telurnya adalah sesuatu yang terlarang.

Dalam hal pro dan kontra mengenai kelestarian alam dan keberlangsungan makhluk hidup, saya berada di tengah-tengah pihak yang berbeda. Sebagian teman saya bekerja di WWF, lembaga yang begitu peduli terhadap isu-isu lingkungan dan hewan. Selain itu, teman-teman saya yang lain juga seringkali mengangkat topik mengenai hal yang senada. Kelapa sawit yang tidak sustainable, penggunaan styrofoam, keterancaman hidup hiu atas manusia, penggunaan kantong plastik, penggunaan kendaraan bermotor, dan banyak hal lainnya menjadi sesuatu yang tidak asing lagi. Namun, apakah itu lantas menjadikan saya peduli? Ternyata tidak juga.

Di suatu lomba lari 10K pertengahan tahun lalu, saya dan teman-teman berlari menggunakan sirip hiu buatan milik WWF. Tujuannya untuk mengkampanyekan penghentian perburuan hiu untuk diambil siripnya. Tetapi, di waktu lain dalam suatu pesta makan malam, saya bersama ibu saya memakan sirip hiu yang saya kampanyekan sendiri. Di awal tahun, saya dan teman-teman yang lain bersama-sama melepas tukik di pantai Pangumbahan, Jawa Barat. Kami, terutama saya, sadar benar bahwa keberadaan penyu terancam karena dari sekian ratus telur yang menetas, hanya akan ada satu penyu yang tumbuh besar menjadi dewasa. Artinya, perburuan telur penyu adalah sesuatu yang terlarang. Hari ini, saya justru menikmati memakan telur penyu itu. Pengetahuan saya soal lingkungan masih dalam tataran teori, belum sampai praktiknya.

Dalam suatu acara di Makassar minggu lalu, saya bertanya pada teman saya yang berasal dari Filipina, apakah di Filipina banyak yang memakan sirip ikan hiu? Dan apakah ia menyukainya? Dengan cerianya ia menjawab, “Ya, saya sangat senang sekali memakannya.” Kalau sudah begini, saya mau bilang apa. Dunia menjadi semakin terancam keberadaannya karena banyak orang bersikap tidak mau peduli. Terlebih orang-orang terdidik. Seperti saya. Seperti Anda.

Teman baik itu tidak diukur dari banyaknya komunikasi, tapi dari banyaknya doa yang diam-diam dipanjatkan.

kurniawangunadi

(via kurniawangunadi)

(via sebelasbintang)

Adakah di benakmu seberkas celah rasa meskipun semu semata ringankan kesedihan

Banyak orang yang memiliki mimpi besar,  tetapi tidak banyak orang yang memiliki kegigihan dan ketekunan yang sama kuatnya. Padahal,  kedua hal itu jauh lebih penting di bandingkan dengan otak pintar maupun tubuh yang kuat

Dream catcher

senjamendungnanberawan:

Menjadi ibu adalah sebuah karir, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sepanjang tahun, sepanjang hidup..Tidak ada cuti, tidak ada libur, tidak ada gaji lembur, tidak ada bonus tambahan, tidak ada tunjangan, dan kadang-kadang tidak dihargai..

Namu aku bahagia dan bangga denga tugas itu..

Karena surat tugasku, ditanda tangani langsung oleh Tuhan :)