Ratna Vitadiani

people profit passion planet performance patience persistence positive purpose practice perseverance perfection
Recent Tweets @vitadiani

Jadi salah satu cita-cita saya jadi 100 orang paling berpengaruh di dunia gitu. Terus lagi, jadi 100 orang terkaya versi majalah forbes hahahahaha!. Iya emang saya suka bermimpi, kan bermimpi itu seperti niat. Walau tidak terwujud tapi tetap berpahala :)

jalansaja:

Bila seorang lelaki yang awalnya selalu memberimu perhatian lebih dulu lalu tiba-tiba menghilang. Bisa jadi dia sedang mencari tahu apakah kau juga membutuhkannya.

Jangan cuma didiamkan, jangan cuma nunggu disapa duluan. Sapalah dia. Bila dia justru mengacuhkan, bisa jadi dia memang cuma numpang kasih perhatian, mulailah berpikir untuk meninggalkan.

Aku tengah menunggu kedewasaanmu bersikap. Jika iya, ayo jalan bersama. Bila tidak, mari hentikan saja. Ragumu hanya mengundang seribu tanda tanya baru.
(via jalansaja)

Dulu ketika saya menjabat sebuah jabatan strategis ingin rasanya merubah perilaku saya. Saya yang urakan, hobi ketawa dan triaktriak, omonganya ceplas ceplos. Ingin berubah menjadi orang yang lebih berkharisma. Mungkin dulu saya berfikir saya akan jadi contoh maka saya harus sempurna. Namun seberusaha apapun saya berubah saya tidak bisa. Sifat asli saya selalu keluar. Ibu saya berkata “tak perlu berubah hanya karena omongan orang lain, kamu akan di pandang dan di hormati dengan cara yang berbeda, kalau kamu jadi diri sendiri justru kamu lebih di sayangi dari pada kamu berpura-pura”. Sedikit kata untuk saya dari ibu tercinta. Yang saya rasakan saat ini pun saya nyaman memimpin dengan gaya saya sendiri yang seperti ini. Entah orang lain menerimanya atau tidak tapi saya selalu merasa nyaman jika saya menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura

annisanis:

"bebas, terserah kau, kemana mau pergi. Asal aku ikut" - Pidi Baiq

Masa depan tidak terletak pada pekerjaan, tetapi pada orang yang mengerjakan.
George Crane (via indonesiasastra)

kuntawiaji:

Saat sedang ngobrol santai sambil makan sate di UI Depok beberapa tahun yang lalu, Oknum B berkata kepada saya, “Lo ngapain jadi dokter? Sekarang dokter udah ga ada gunanya. Nanti kalau sakit kita tinggal buka aplikasi di komputer terus masukin gejala-gejala penyakit kita, terus keluar deh…

Majunya negara tergantung dari wanita karna wanita yang melahir kan seorang pemimpin,
Ngutip dari setatus Fb orang :)  (via duwiprasetyo)

academicus:

Kau bilang selagi muda kita harus menggali pengalaman,

Aku sibuk dengan segudang kegiatan

kau bilang aku tak mau berteman

Kau bilang jangan sok sibuk, sisihkan waktu untuk saudara dan teman,

Aku tinggalkan semua kegiatan untukmu

kau bilang aku tak fokus

Kini kita sudah dewasa, saatnya kita…

Ada orang-orang yang kita benci, sementara mereka berjuang keras untuk kebaikan kita. Kita menilai lalu menghakimi, sementara mereka mencintai lalu bekerja keras. Kita cemooh mereka, membuat sedikit pedih hati mereka, tetapi toh mereka tetap berjuang demi kebaikan kita. Saya sedang bicara tentang sebagian pemimpin kita yang baik, yang sering tak kita ketahui kerja-kerja mereka, namun stigma “Tak ada pemimpin yang baik di negeri ini” telah begitu kuat menancap. Saya tidak tahu siapa saja mereka, tetapi saya bertanya-tanya, bagaimana jika ada satu-dua yang demikian? Bagaimana jika yang selalu saya cemooh begitu mencintai saya namun tak sempat terungkap, upaya kerasnya tak mampu saya lihat, dan buah kerjanya tak pernah saya syukuri? Bagaimana jika kita tukar cemoohan kita dengan doa-doa kebaikan untuk mereka dan untuk negeri ini? Mengeluarkan energi yang kira-kira sama namun lebih produktif. Kalaupun yang kita doakan bukan pemimpin yang baik, jika doa kita adalah doa kebaikan, Allah bisa baikkan pemimpin tak baik itu, atau bisa pula Allah baikkan negeri ini dengan hindarkan kita dari pemimpin macam itu, atau cara lain yang Allah sukai. Jangan lupa pula ikhtiar terbaik sesuai kapasitas kita untuk kebaikan negeri ini, mungkin saja kita adalah jawaban yang Allah persiapkan untuk doa-doa itu. Siapa tahu?